Wednesday, December 10, 2014

HUBUNGAN ANTARA PERKEMBANGAN DENGAN BELAJAR





Perkembangan ialah rangkaian yang bersifat progresif dan teratur dari fungsi jasmaniah dan ruhaniah sebagai akibat pengaruh kerja sama antara kematangan (maturation) dan pelajaran (learning) atau perubahan secara kualitatif. Secara garis besar, tahapan perkembangan dibagi menjadi beberapa tahapan diantaranya yaitu fase bayi, anak-anak, remaja, dewasa awal, setengah baya, dan fase tua. Itulah fase- fase dalam tahap perkembangan serta tugas-tugasnya. Akan tetapi tugas yang semestinya dapat dilaksanakan dengan baik, kadang kala tidak dapat direalisasikan karena beberapa faktor dari luar.
         1. Apa pengertian pengembangan ???
         2. Bagaimana proses serta tugas perkembangan  seorang individu???
         3. Bagaimana hubungan antara perkembagan dengan belajar???

C.  Tujuan
                1. Untuk mengetahui pengertian pengembangan.
          2. Untuk mengetahui proses serta tugas perkembangan seorang individu.
                      3. Untuk mengetahui hubungan antara perkembangan dengan belajar.











HUBUNGAN ANTARA PERKEMBANGAN DENGAN BELAJAR

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), arti “perkembangan” adalah perihal berkembang. Yang berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian, istilah “berkembang” atau perkembangan bersifat abstrak dan konkret.
Di dalam Dictionary of Psycholog (1972) dan syah (1996) arti perkembangan adalah tahapan-tahapan perubahan bersifat progesif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainnya.
            Hamlik (1992) menyatakan bahwa pertumbuhan (growth) dapat dipandang sebagai pertambahan dalam ukuran badan, tetapi dalam literatur pendidikan dan psikolgis, “pertumbuhan” meliputi “kematangan”, “perkembangan”dan “belajar”.
Perkembangan ialah rangkaian yang bersifat progresif dan teratur dari fungsi jasmaniah dan ruhaniah sebagai akibat pengaruh kerja sama antara kematangan (maturation) dan pelajaran (learning) atau perubahan secara kualitatif.
Adapun teori proses perkembangan adalah sebagai berikut:
  1. Teori asosiasi : perkembangan dikarenakan adanya unsur-unsur yang berasosiasi, dipengaruhi oleh penangkapan alat indera sehingga semakin banyak yang ditangkap semakin banyak pula tanggapannya (dari simpel menjadi komplek). (J.F Herbart)
  2. Teori gestalt : perkembangan diawali dari sesuatu yang menyeluruh, makin lama terliat hal yang kecil sehingga akan terlihat bagian-bagian dari keseluruhan itu (diferensiasi). (Wilhelm Wundt)
  3. Teori Neo – gestalt : proses diferensiasi berkembang setahap demi setahap, dan berlangsung terus menerus. (Lewin).



          Menurut Hurlock (1980), manusia itu tidak statis atau mandek, karena perubahan-perubahan senantiasa terjadi dalam dirinya dalam berbagai kapasitas (kemampuan) baik yang bersifat biologis maupun psikologis.Secara umum, seluruh proses perkembangan individu sampai menjadi “person” (dirinya sendiri) berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
Pertama, tahapan proses konsep (pembuahan sel ovum oleh sel sperma)
Kedua, tahapan proses kelahiran (lahirnya bayi dari rahim ibu ke dunia bebas)
Ketiga, tahapan proses perkembangan individu bayi menjadi seorang pribadi yang khas.
Enam tahapan (fase) perkembangan individu dan tugas-tugas perkembagannya yaitu:
1.      Tugas perkembangan  fase bayi sampai usia 6 tahun
            1). Belajar berjalan dengan rangsangan orang lain
            2). Belajar memegang
            3). Belajar berbicara/membuat suara-suara berarti
            4). Mencapai kstabilan jasmaniah
            5). Belajar menghubungkan diri secara emosional dengan orang tua
            6). Belajar pembentukan kata hati (hati nurani) benar dan salah
  1. Tugas perkembangan fase sekolah (6-12 tahun)
            1). Belajar menguasai kemampuan fisik
            2). Membentuk sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai pribadi yang tumbuh
            3). Belajar bergaul dengan teman sebaya
            4). Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelamin
            5). Mengembangkan kata hati, moral dan skala nilai
            6). Mempelajari peran sosial sebagai laki-laki dan perempuan








3.  Tugas perkembangan masa adolesen/remaja
            1). Menerima keadaan fisik dan menerima perannya baik pria/wanita
            2). Mencapai hubungan yang baru dengan teman sebaya dari lawan sejenis
            3). Memperoleh jaminan kebebasan ekonomi
            4). Menciptakan dan mencapai tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
            5). Mempersiapkan diri untuk berumah tangga
            6). Membentuk nilai-nilai kata hati yang serasi dengan kenyataan yang ilmiah
  1. Tugas perkembangan masa dewasa awal (21-22 tahun)
            1). Mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga negara yang dewasa
            2). Memilih teman hidup dan memulai membina keluarga
            3). Mencapai dan mempertahankan suatu tingkat kehidupan ekonomi
            4). Mengendalikan rumah tangga dan mengurus anak
            5). Menemukan kelompok sosial yang serasi
            6). Menerima dan menyesuaikan pada perubahan fisiologis karena usia
    5. Tugas perkembangan masa setengah baya (40-60 tahun)
a)      Membantu anak-anak yang berusia belasan tahun agar berkembang menjadi orang yang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab.
b)      Mengembangkan aktivitas waktu dan memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya bersama orang dewasa yang lainnya.
c)      Mnghubungandiri sedemikian rupa dengan pasangannya sebagai pribadi yang
d)     Menyesuaikan diri dengan perikehidupan orang-orang yang berusia lanjut.
       6. Tugas perkembangan masa tua (60 tahun keatas)
            1). Menyesuaikan diri pada kekuatan dan kesehatan jasmani yang semakin mundur
            2). Enyesuaikan diri pada saat pensiun dan pendapatan ekonomi berkurang
            3). Menyusun penyelenggaraan kehidupan jasmani yang memuaskan






a.       Perkembangan Motorik (Motoric Development)
Perkembangan motorik merupakan proses perkembangan yang progresif (maju) dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skill).
b.      Perkembangan Kognitif (Kognitive Development)
Istilah kognitif berasal dari kata cognition padanan katanya knowing, artinya mengetahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, penggunaan pengetahuan (neisser, 1976 dalam Muhibbin Syah, 1996:65).
          Jean Piaget (baca: Jin Piasye) seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak, mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan yakni:
a)  Tahap sensory-motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun.
b)Tahap pre-operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun.
c)   Tahap concrete-operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 7-11 tahun.
d)     Tahap formal-operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun (Syah, 1996:66).
c.       Perkembangan Sosial dan Moral (social and Moral development)
Perkembangan sosial dengan moral yaitu proses perkembangan mentalyag berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak berkomunikasi dengan oranglain, baik secara individu maupun sebagai kelompok.
Perkembangan sosial dan moral juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Ini bermakna bahwa proses belajar itu sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, tradisi, hukum, dan norma lainnya yang berlaku dalam masyarakat.




                        Perkebangan dengan belajar memiliki hubungan sangat erat, sehingga hampir semua proses perkembangan memerlukan belajar. Daam konteks belajar formal, antara proses perkembangan dengan belajar (proses belajar mengajar) yang dikelola oleh guru terdapat ikatan yang sangat kuat yang mengikat kedua proses tersebut. Demikian eratnya ikatan tersebut, maka hampir tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohani yang terlepas dari proses belajar mengajar dalam pendidikan.
    Hal-hal yang mempengaruhi proses belajar anak antara lain adalah sebagai berikut:
1)      Kegiatan Fisik
Kegiatan fisik mempunyai arti penting dalam kegiatan belajar. Posisi ini tidak hanya sebagai penopang kegiatan belajar, tetapi juga berperan untuk mendapatkan keterampilan-keterampilan tertentu. Keberhasilan anak melewati fase pertumbuhan fisik membuat anak menjadiorang yang siap secara fisik.
2)      Perkembangan kognitif
Proses perkembagan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir. Bekal dan modal dasar perkembangan manusia yaitu kasitas motor dan kapasitas sensori sampai batas tertentu yang dipengaruhi oleh aktivitas kognitif. Dengan melalui pancaindera anak melakukan aktivitas kognitif untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sosialnya. Pengalaman langsung berdasarkan pengamatan terhadap suatu objek adalah awal pengenalan terhadap suatu objek.












BAB III PENUTUP

           Dari pemaparan materi diatas dapat disimpulkan bahwasannya perkembangan  di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), arti “perkembangan” adalah perihal berkembang. Yang berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas,dan banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian, istilah “berkembang” atau perkembangan bersiffat abstrak dan konkret.Selain itu, merujuk pada psikologi perkembangan yang membahas tahap perkembangan individu, maka ada enam tahapan perkembangan individu dan tugas-tugas perkembangannya yaitu fase bayi, anak-anak, remaja, dewasa awal, setengah baya,dan fase tua. Kesimpulan yang ketiga yang dapat kita ambil dari pemaparan materi ini tentang hubungan antara perkembangan dengan belajar yaitu bahwasannya Perkebangan dengan belajar memiliki hubungan sangat erat, sehingga hampir semua proses perkembangan memerlukan belajar. Daam konteks belajar formal, antara proses perkembangan dengan belajar (proses belajar mengajar) yang dikelola oleh guru terdapat ikatan yang sangat kuat yang mengikat kedua proses tersebut. Demikian eratnya ikatan tersebut, maka hampir tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohani yang terlepas dari proses belajar mengajar dalam pendidikan.Adapun hal-hal yang mempengaruhi proses belajar yaitu kegiatan fisik dan perkembangan kogniif.
Setelah membaca meteri ini, diharapkan kita dapat memahami akan hubungan antara perkembangan dengan belajar yang kemudian dapat kita terapkan dalam kehidupan kita.Selain itu, penyusun menyadari bahwa dalam penulisan ringkasan ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan untuk penyusunan yang lebih sempurna lagi, untuk itu disampaikan terima kasih.







Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fauzi, Akhmad. 2004. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
Tohirin. 2005. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja
                 Grafindo Persada.



Cerita Wayang Gugur Sumantri



BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG  
Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan yang timbul dan berkembang dalm setiap suku memiliki keunikan dan kekhasan yang berbeda-beda sehingga setiap daerah memiliki minimal satu kebudayaan yang dapat dibanggakan, salah satunya adalah kebudayaan Jawa. Dalam hal ini Kebudayaan Jwa khususnya Jawa Tengah mempunyai ragam kebudayaan, salah satunya adalah wayang. Wayang merupakan salah satu hasil kebudayaan dan warisan yang memiliki nilai tinggi. Wayang mempunyai arti harafiah bayangan tetapi dapat juga diartikan pertunjukan panggung atau teater. Salah satu bentuk dan hasil kebudayaan yang tinggi maka wayang banyak menyimoan nilai-nilai seperti nilai religious, nilai ilmu atau filsafat dan nilai seni. Bagi masyarakat Jawa pagelaran wayang hanya  dipentaskan pada hari-hari tertentu, seperti hari perayaan keagamaan dan acara-acara Slametan (upacara yang ditandai dengan sajian bermacam-macam makanan yang ditentukan menurut kebudayaan Jawa). Selain itu juga untuk merayakan peristiwa penting, misalnya kelahiran, sunatan, perkawinan.
Wayang tidak hanya sebagai hiburan akan tetapi pada perkembangannya cerita-cerita atau lakom yang dipentaskan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang  sedang dialami oleh masyarakat. Didalam wayang juga terkandung symbol-simbol tertentu. Bahkan sering kali pementasan wayang ini menyindindir bahkan mengkritik para tokoh masyarakat politikus dan pemimpin negara yang perilakunya dianggap menyimpang dari harapan masyarakatnya.
Para ahli senantiasa membicarakan wayang dari masa ke masa, baik dalam kesempatan diskusi, seminar, kongres, terbitan buku, majalah, Koran dan sebagainya. Ini dilakukan karena pengetahuan wayang yang demikian luas menarik untuk dibicarakan dan memberikan kontribusi terhhadap kehidupan masyarakat. Nilai-nilai kehidupan yang tergambar dalam wayang terbukti dapat dipergunakan sebagai renungan dan referensi hidup berbangsa,bernegara dan menciptakan pendidikan berkaraker.

B.   TUJUAN
1.    Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pendidikan karakter yang ada dalam cerita wayang.
2.    Menjadikan bangsa yang berkarakter lebih baik  seperti dalam tokoh cerita wayang tersebut.
3.   Agar para generasi muda mengetahui  dan tidak meninggalkan kebudayaan     wayang di Indonesia dan cerita wayang di Inonesia.

C.   MANFAAT
                  Pembaca diharapkan dapat mengenal,menambah pengetahuan seputar wayang serta tidak meninggalakan Kebudayaan Wayang.  Diharapkan juga pembaca juga ikut melestarikan Kebudayaan Wayang ini agar tidak diakuni oleh bangsa lain.







BAB II
PEMBAHASAN
A.   SINOPSIS CERITA
Setelah Sumantri diangkat menjadi patih kerajaan Maespati mendampingi Prabu Arjunasasrabahu, Maespati semakin berkembang. Prabu Arjunasasrabahu memerintah dengan sikap yang adil, arif dan bijaksana. Prabu Arjunasasrabahu hidup dengan satu permaisuri yaitu Dewi Citrawati dan 800 lebih selirnya. Ia sangat mecintai istri-istrinya, terutama Dewi Citrawati. Apa saja yang menjadi keinginan Dewi Citrawati akan dipenuhi oleh Prabu Arjunasasbahu. Suatu hari, Dewi Citrawati menyampaikan keinginannya kepada Sang Raja. Ia ingin mandi bersama dengan 800 orang selirnya di sebuah sungai atau danau. Keinginannya itu sangat aneh, tetapi Prabu Arjunasasrabahu berusaha memenuhi permintaan Dewi Citrawati
Prabu Arjunasasrabahu membawa Dewi Citrawati dan 800 orang selirnya lengkap dengan para dayangnya ke sebuah dataran rendah antara pegunungan Salva dan Malawa, dimana ditengahnya mengalir sebuah sungai. Mereka berangkat dengan Patih Suwanda dan dikawal beberapa ratus prajurit. Setelah sampai Prabu Arjunasasrabahu berpesan kepada Patih Suwanda bahwa ia akan bertiwikrama untuk membendung aliran sungai agar menjadi  danau dan bisa digunakan Dewi Citrawati dan para selir untuk mandi dan bercengkerama. Ia juga berpesan bahwa keselamatan Dewi Citrawati dan para selirnya menjadi tanggung jawab Patih Suwanda..
Kemudian Prabu Arjunasasrabahu bertiwikrama, tidur melintang membendung  alira sungai. Tidak butuh waktu lama, lembah antara pegunungan Salva dan Malawa berubah menjadi danau buatan yang sangat luas. Setelah itu Dewi Citrawati, para selir dan dayang masuk ke dalam air. Mereka bercanda, bercengkerama mandi dalam satu danau. Tapi luapan air sungai semakin lama semakin tinggi dan menggenangi perbukitan serta daerah sekitarnya. Sementara itu, diantara kedua betis raksasa jelmaan Prabu Arjunasasrabahu muncul daerah kering, dan disitulah dibuat pesanggrahan mewah sebagai tempat tinggal Dewi Citrawati dan para selir berikut dayang-dayangnya. Selain itu Patih Suwanda para raja dan prajurit Maespati membuat pesanggrahan di luar betis yang melintang itu.
Semakin lama, luapan air semakin meluas dan tak teduga luapan air bebalik arahke hulu, membanjiri  lembah dan perbukitan, termasuk daerah perbukitan Janakya di wilayah Sakya, dimana Rahwana, raja Alengka beserta para hulubalangnya sedang membangun pesanggrahan. Hanya sekejap, pesanggrahan yang dibangun Rahwana habis dilanda air bah. Rahwana dan para prajurit yang bisa terbang, segera menyelematkan diri terbang ke puncak gunung. Namun banyak pula para prajurit raksasa yang tidak sempat menyelamatkan diri dan mati hanyut. Kejadian itu membuat Rahwana marah, ia segera menyuruh Kala Marica, abdi kepercayaannya untuk melakukan penyelidikan, apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Kala Marica segera menjalankan perintahnya dan tidak lama kemudian ia kembali menghadap Rahwana, melaporkan hasil penyelidikanya.
Kala Marica melaporkan yang menyebabkan aliran sungai meluap dan menghancurkan pesanggrahan adalah ulah Prabu Arjunasasrabahu, raja Negara Maespati yang tidur melintang di muara sungai. Kala Marica melaporkan bahwa Prabu Arjunasasrabahu sedang melakukan Tiwikrama yang membendung aliran sungai untuk menyenangkan hati permaisuri dan para putri domas serta selir yang jumlahnya ribuan orang. Dari ribuan wanita-wanita cantik itu, yang paling cantik adalah Dewi Citrawati, puteri Magada yang pernah menjadi rebutan ribuan raja karena diyakini sebagai titisan Bathari Sriwidawati. Mendengar penjelasan Kala Marica, tanpa pikir panjang, Rahwana ingin menantang Prabu Arjunasasrabahu dan ingin merebut Dewi Citrawati. Ia segera memerintahkan Aditya Mintragna, Karadusana dan Trimurda untuk menyiapkan pasukan perang, menggempur Negara Maespati.
Patih Prahasta kurang setuju dengan keputusan Rahwana. Ia menasehati daan mengingatkan Prabu Rahwana akibat yang akan timbul dari peprangan itu. Patih Prasta mengingatkan bahwa Prabu Arjunasasrabahu dan Prabu Suwanda sulit tertandingi. Namun Rahwana tetap kukuh akan menyerang Negra Maespati. Akhirnya peperangan pun terjadi, ribuan raksasa Alengka dan Maespati jatuh bergelimpangan, banyak  para senopati perang Alengka mati dalam peprangan dan pasukan akhirnya mundur. Pada saat itulah Rahwana maju perang menghadapi para senopati perang Maespati.
Rahwana bertiwikrama merubah wujudnya menjadi raksasa sebesar bukit, berkepala sepuluh dan bertangan sepuluh yang masing-masing memagang berbagai jenis senjata. Hanya dalam waktu singkat prajurit Maespati mati ditangan Rahwana. Beberapa raja yang menjadi senopati perang Maespati, seperti Prabu Wisabraja, Prabu Kalinggapati, Prabu Soda, Prabu Candraketu dan Patih Handaka Sumekar, mencoba menghadang, namun mereka semua bukanlah tandingan Rahwana. Para raja itu pun akhirnya juga gugur ditangan Rahwana. Patih Suwanda pun akhirnya maju sendiri memimpin pasukan Maespati. Pasukan Maespati bergerak cepat memporak porandakan pasukan Alengka. Patih Suwanda sangat trengginas, tak satupun para Senopati perang Alengka seperti Tumenggung Mintragna, Karadusana, Trimurda, dan juga patih Prahasta mampu menandingi kesaktian Patih Suwanda. Mereka lari menyelematkan dirinya sendiri. Beberapa putera Rahwana yaitu Kuntalamea, Trigarda, Indrayaksa dan Yaksadewa nekat melawan Patih Suwanda, tetapi akhirnya mati di medan perang.
Rahwana mengetauhi bahwa putra dan para senapati yang melawan Patih Suwanda  tewas tidak dapat mengalahkan Patih Suwanda. Akhirnya Rahwana pun maju sendiri ke medan perang. Berkali-kali patih Suwanda berhasil memenggal kepada Rahwana, namun Rahwana selalu dapat hidup kembali dari kematian. Hal ini dikarenakan ia memiliki Ajian Rawarontek, pemberian Prabu Danaraja, raja negara Lokapala, kakak Rahwana satu ayah, yaitu putera Resi Wisrawa.
Merasa kewalahan menghadapi patih Suwanda, Rahwana bertiwikrama, tubuhnya berubah menjadi raksasa sebesar bukit, berkepala sepuluh dan bertangan dua puluh. Tiwikrama Rahwana tidak membuat Patih Suwanda takut. Dengan cepat, Patih Suwanda melepaskan senjata Cakra, yang begitu melesat langsung menebas putus kesepuluh kepala Rahwana. Kepala Rahwana jatuh bergelimpangan di tanah, namun dalam sekejap menyatu kembali pada badannya. Patih Suwanda mulai kehilangan akal untuk menghadapi kesaktian Rahwana. Sementara itu, arwah Sukrasana, adik Patih Suwanda , masih bergentayangan di Sorgamaya melihat pertempuran tersebut. Rahwana berkesimpulan, bahwa inilah saat yang tepat untuk membalas dendam pada kakaknya, dan sekaligus memenuhi janjinya untuk bersama-sama arwah kakaknya, Sumantri (Patih Suwanda) pergi ke Sorgaloka.
Arwah Sukrasana pun kemudian menyatu dalam taring Rahwana. Patih Suwanda bertekad untuk menghabisi Rahwana. Setelah berhasil membabat kepala Rahwana dengan menggunakan senjata cakra, Patih Suwanda langsung mengambil kepala Rahwana. Namun tidak disangka-sangka, tubuh Rahwana kembali lagi bersatu berkat kesaktian Aji Rawarontek. Karena pengaruh arwah Sukrasana, tangan Rahwana langsung menganggkat tubuh Patih Suwanda dan menggit lehernya sampai putus. Akhirnya Patih Suwanda gugur dan arwahnya berdampingan dengan arwah Sukrasana (adiknya) terbang ke Sorgaloka.
                Atas kematian Patih Suwanda (Sumantri) membuat Prabu Arjunasasrabahu marah. Lalu Prabu Arjunasasrabahu memanah Rahwana dengan panah Kalamanggaesta, setelah itu  Rahwana di bawa ke Mespati dan dipertontonkan di alun-alun. Atas permohonan Patih Prashasta, akhirnya Rahwana dibebaskan dengan Syarat tidak boleh lagi berlaku sewenang-wenang.



B.   FUNGSI CERITA
Setelah membaca cerita di atas diketahui bahwa cerita ini sangat didominasi oleh nilai seni yang tinggi dan banyak mengandung pendidikan karakter yang terbentuk dalam penokohan sehingga penyampaiannya lebih efektif dan lebih menyenangkan, karena dalam cerita wayang ini bisa meningkatkan kemampuan seseorang dalam memahami suatu nilai yang terkandung di dalamnya.
Bangsa kita saat ini perlu dibenahi, maka yang harus kita lakukan adalah merubah karakter bangsa, salah satu contohnya kita mau berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, karena karakter yang baik mampu mengubah pola sifat dan perilaku positif yang didasarkan pada kesadaran pribadi seseorang itu sendiri. Cerita Sumantri gugur yang berjuang demi negaranya ini merupakan sebuah inspirasi bagi sebuah bangsa untuk berkarakter (sebagaimana dalam cerita ini) dalam kehidupan sehari-hari.











BAB III
A.   PENUTUP
a.    Simpulan
Sumantri adalah tokoh pewayangan yang berhasil diangkat menjadi Patih di Negara Maespati mendampingi Prabu Arjunasasrabahu. Ia dikenal dengan nama Patih Suwanda. Ia mendampingi raja dalam mengurus negara sehingga negara Maespati menjadi makmur.
Ketika terjadi peperangan dengan kerajaraan Alengka, Patih Suwanda memimpin pertempuran dengan gagah berani tak satupun para senopati Alengka mampu menandingi kesaktian Suwanda bahkan ke empat anak Rahwana raja Alengka juga berhasil dikalahkan
Raja Alengka yaitu Rahwana akhirnya berperang melawan Patih Suwanda. Pada mulanya Suwanda berhasil memenggal kepala Rahwana tetapi tubuh Rahwana kembali seperti semula karena memiliki Aji Rawarontek. Akhirnya Patih Suwanda gugur karena Rahwana di bantu oleh arwah Sukrasana adik Patih Suwanda yang dulunya terbunuh oleh kakaknya.

b.    Saran
Saat ini wayang tidak hanya sebuah pementasan/sekadar tontonan, namun Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang mempunyai nilai-nilai luhur yang tercermin dalam karakter para tokoh dalam penokohannya.
                        Maka dari itu kita sebagai penerus bangsa harus melestarikan seni kebudayaan wayang, karena dengan begitu akan menjadikan karakter bangsa kita ini  semakin baik dalam bidang apupun tanpa memperhatikan latar belakang kehidupan sosial masing-masing.
                        Dari cerita diatas, kita tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain menuruti amarah kita melainkan kita harus selalu menghormati orang lain. Apabila ada permasalahan sebaiknya dapat diselesaikan dengan cara musyawarah.























DAFTAR PUSTAKA