Perkembangan
ialah rangkaian yang bersifat progresif dan teratur dari fungsi jasmaniah dan
ruhaniah sebagai akibat pengaruh kerja sama antara kematangan (maturation) dan
pelajaran (learning) atau perubahan secara kualitatif. Secara garis
besar, tahapan perkembangan dibagi
menjadi beberapa tahapan diantaranya yaitu fase bayi, anak-anak, remaja, dewasa
awal, setengah baya, dan fase tua. Itulah fase- fase dalam tahap
perkembangan serta tugas-tugasnya. Akan
tetapi tugas yang semestinya dapat dilaksanakan dengan baik, kadang kala tidak
dapat direalisasikan karena beberapa faktor dari luar.
1. Apa pengertian pengembangan ???
2. Bagaimana proses serta tugas
perkembangan seorang individu???
3. Bagaimana hubungan antara
perkembagan dengan belajar???
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian pengembangan.
2. Untuk mengetahui proses serta tugas perkembangan seorang individu.
3. Untuk mengetahui hubungan antara
perkembangan dengan belajar.
HUBUNGAN ANTARA
PERKEMBANGAN DENGAN BELAJAR
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), arti “perkembangan” adalah
perihal berkembang. Yang berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar,
luas, dan banyak serta menjadi
bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya.
Dengan demikian, istilah “berkembang” atau perkembangan bersifat abstrak dan
konkret.
Di dalam Dictionary of Psycholog (1972) dan syah (1996) arti perkembangan
adalah tahapan-tahapan perubahan bersifat progesif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme
lainnya.
Hamlik (1992) menyatakan bahwa
pertumbuhan (growth) dapat dipandang sebagai pertambahan dalam ukuran badan, tetapi dalam literatur pendidikan dan
psikolgis, “pertumbuhan” meliputi “kematangan”, “perkembangan”dan “belajar”.
Perkembangan ialah
rangkaian yang bersifat progresif dan teratur dari fungsi jasmaniah dan
ruhaniah sebagai akibat pengaruh kerja sama antara kematangan (maturation) dan
pelajaran (learning) atau perubahan secara kualitatif.
Adapun teori proses perkembangan adalah
sebagai berikut:
- Teori asosiasi : perkembangan dikarenakan adanya unsur-unsur yang berasosiasi, dipengaruhi oleh penangkapan alat indera sehingga semakin banyak yang ditangkap semakin banyak pula tanggapannya (dari simpel menjadi komplek). (J.F Herbart)
- Teori gestalt : perkembangan diawali dari sesuatu yang menyeluruh, makin lama terliat hal yang kecil sehingga akan terlihat bagian-bagian dari keseluruhan itu (diferensiasi). (Wilhelm Wundt)
- Teori Neo – gestalt : proses diferensiasi berkembang setahap demi setahap, dan berlangsung terus menerus. (Lewin).
Menurut Hurlock (1980), manusia itu tidak statis
atau mandek, karena perubahan-perubahan senantiasa terjadi dalam dirinya dalam
berbagai kapasitas (kemampuan) baik yang bersifat biologis maupun
psikologis.Secara umum, seluruh proses perkembangan individu sampai menjadi
“person” (dirinya sendiri) berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
Pertama, tahapan proses konsep (pembuahan sel ovum oleh sel sperma)
Kedua, tahapan proses kelahiran (lahirnya bayi dari rahim ibu ke
dunia bebas)
Ketiga, tahapan proses perkembangan individu bayi menjadi seorang
pribadi yang khas.
Enam tahapan
(fase) perkembangan individu dan tugas-tugas perkembagannya yaitu:
1.
Tugas perkembangan
fase bayi sampai usia 6 tahun
1).
Belajar berjalan dengan rangsangan orang lain
2).
Belajar memegang
3).
Belajar berbicara/membuat suara-suara berarti
4).
Mencapai kstabilan jasmaniah
5).
Belajar menghubungkan diri secara emosional dengan orang tua
6).
Belajar pembentukan kata hati (hati nurani) benar dan salah
- Tugas perkembangan fase sekolah (6-12 tahun)
1).
Belajar menguasai kemampuan fisik
2).
Membentuk sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai pribadi yang tumbuh
3).
Belajar bergaul dengan teman sebaya
4).
Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelamin
5).
Mengembangkan kata hati, moral dan skala nilai
6).
Mempelajari peran sosial sebagai laki-laki dan perempuan
3. Tugas perkembangan masa adolesen/remaja
1).
Menerima keadaan fisik dan menerima perannya baik pria/wanita
2).
Mencapai hubungan yang baru dengan teman sebaya dari lawan sejenis
3). Memperoleh jaminan kebebasan
ekonomi
4). Menciptakan dan mencapai tingkah
laku sosial yang bertanggung jawab
5). Mempersiapkan diri untuk berumah
tangga
6). Membentuk nilai-nilai kata hati
yang serasi dengan kenyataan yang ilmiah
- Tugas perkembangan masa dewasa awal (21-22 tahun)
1).
Mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga negara yang dewasa
2).
Memilih teman hidup dan memulai membina keluarga
3).
Mencapai dan mempertahankan suatu tingkat kehidupan ekonomi
4).
Mengendalikan rumah tangga dan mengurus anak
5).
Menemukan kelompok sosial yang serasi
6).
Menerima dan menyesuaikan pada perubahan fisiologis karena usia
5. Tugas perkembangan masa
setengah baya (40-60 tahun)
a)
Membantu anak-anak yang berusia belasan tahun
agar berkembang menjadi orang yang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab.
b)
Mengembangkan aktivitas waktu dan memanfaatkan
waktu luang sebaik-baiknya bersama orang dewasa yang lainnya.
c)
Mnghubungandiri sedemikian rupa dengan
pasangannya sebagai pribadi yang
d)
Menyesuaikan diri dengan perikehidupan
orang-orang yang berusia lanjut.
6. Tugas perkembangan masa tua (60 tahun keatas)
1).
Menyesuaikan diri pada kekuatan dan kesehatan jasmani yang semakin mundur
2).
Enyesuaikan diri pada saat pensiun dan pendapatan ekonomi berkurang
3).
Menyusun penyelenggaraan kehidupan jasmani yang memuaskan
a. Perkembangan Motorik (Motoric Development)
Perkembangan motorik merupakan proses perkembangan yang
progresif (maju) dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan
fisik anak (motor skill).
b. Perkembangan Kognitif (Kognitive Development)
Istilah kognitif berasal dari kata cognition padanan katanya knowing,
artinya mengetahui. Dalam arti luas, cognition
(kognisi) ialah perolehan, penataan, penggunaan pengetahuan (neisser, 1976
dalam Muhibbin Syah, 1996:65).
Jean
Piaget (baca: Jin Piasye) seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi
kognitif dan psikologi anak, mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak
menjadi empat tahapan yakni:
a)
Tahap sensory-motor, yakni perkembangan ranah
kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun.
b)Tahap pre-operational, yakni
perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun.
c)
Tahap concrete-operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada
usia 7-11 tahun.
d)
Tahap formal-operational, yakni perkembangan ranah
kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun (Syah, 1996:66).
c.
Perkembangan Sosial dan Moral (social and Moral development)
Perkembangan sosial dengan
moral yaitu proses perkembangan mentalyag berhubungan dengan
perubahan-perubahan cara anak berkomunikasi dengan oranglain, baik secara individu
maupun sebagai kelompok.
Perkembangan sosial dan
moral juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Ini bermakna bahwa proses
belajar itu sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku
sosial yang selaras dengan norma moral agama, tradisi, hukum, dan norma lainnya
yang berlaku dalam masyarakat.
Perkebangan dengan belajar
memiliki hubungan sangat erat, sehingga hampir semua proses perkembangan
memerlukan belajar. Daam konteks belajar formal, antara proses perkembangan
dengan belajar (proses belajar mengajar) yang dikelola oleh guru terdapat
ikatan yang sangat kuat yang mengikat kedua proses tersebut. Demikian eratnya
ikatan tersebut, maka hampir tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani
maupun rohani yang terlepas dari proses belajar mengajar dalam pendidikan.
Hal-hal yang
mempengaruhi proses belajar anak antara lain adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan Fisik
Kegiatan fisik mempunyai arti penting dalam kegiatan belajar. Posisi ini
tidak hanya sebagai penopang kegiatan belajar, tetapi juga berperan untuk
mendapatkan keterampilan-keterampilan tertentu. Keberhasilan anak melewati fase
pertumbuhan fisik membuat anak menjadiorang yang siap secara fisik.
2) Perkembangan kognitif
Proses perkembagan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru
lahir. Bekal dan modal dasar perkembangan manusia yaitu kasitas motor dan
kapasitas sensori sampai batas tertentu yang dipengaruhi oleh aktivitas
kognitif. Dengan melalui pancaindera anak melakukan aktivitas kognitif untuk
mendapatkan pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan
sosialnya. Pengalaman langsung berdasarkan pengamatan terhadap suatu objek
adalah awal pengenalan terhadap suatu objek.
Dari pemaparan materi diatas dapat
disimpulkan bahwasannya perkembangan di
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), arti “perkembangan” adalah perihal
berkembang. Yang berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas,dan
banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran,
pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian, istilah “berkembang” atau
perkembangan bersiffat abstrak dan konkret.Selain itu, merujuk pada psikologi
perkembangan yang membahas tahap perkembangan individu, maka ada enam tahapan
perkembangan individu dan tugas-tugas perkembangannya yaitu fase bayi,
anak-anak, remaja, dewasa awal, setengah baya,dan fase tua. Kesimpulan yang
ketiga yang dapat kita ambil dari pemaparan materi ini tentang hubungan antara
perkembangan dengan belajar yaitu bahwasannya Perkebangan dengan belajar memiliki hubungan sangat
erat, sehingga hampir semua proses perkembangan memerlukan belajar. Daam
konteks belajar formal, antara proses perkembangan dengan belajar (proses
belajar mengajar) yang dikelola oleh guru terdapat ikatan yang sangat kuat yang
mengikat kedua proses tersebut. Demikian eratnya ikatan tersebut, maka hampir
tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohani yang terlepas
dari proses belajar mengajar dalam pendidikan.Adapun hal-hal yang mempengaruhi
proses belajar yaitu kegiatan fisik dan perkembangan kogniif.
Setelah membaca meteri ini,
diharapkan kita dapat memahami akan hubungan antara perkembangan dengan belajar
yang kemudian dapat kita terapkan dalam kehidupan kita.Selain itu, penyusun
menyadari bahwa dalam penulisan ringkasan ini masih sangat jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan untuk penyusunan yang
lebih sempurna lagi, untuk itu disampaikan terima kasih.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fauzi, Akhmad. 2004. Psikologi
Umum. Bandung: Pustaka Setia
Tohirin. 2005. Psikologi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.